Selasa, 15 Januari 2008

CERITA DI BALIK GREEN BABEL UNTUK BANG EKO MAULANA ALI SUROSO



Pertengahan tahun 2007 Pemerintah Provinsi Bangka Belitung bersama sama dengan PT Timah Tbk (terlihat dari pesan sponsor di topi dan Baju) melakukan aksi kepedulian sosial melalui sebuah mega proyek penghijauan lahan kritis di Provinsi Bangka Belitung. Kegiatan ini cukup memiliki gaung bahwa di daerah ini ada sebuah perusahaan tambang yang begitu peduli dengan lingkungan sehingga rela menyiapkan dana sampai dengan 50 milyar rupiah untuk mendanainya.
Biasanya sumbangan perusahaan berupa dana bantuan atau sembako kepada korban bencana alam, panti asuhan, dan lain-lain. Kali ini melalui program Corporat Social Responsibility PT Timah mencoba mensinergikannya dengan kegiatan reklamasi perusahaan melalui program Green babel. Kegiatan ini pun dipublikasikan tentu saja dengan harapan kegiatan tersebut dapat menyentuh akar masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat karena seringkali bantuan perusahaan kepada masyarakat hanya berguna sesaat saja. Selanjutnya masyarakat kembali pada kondisi semula dan semakin termarjinalkan.


Pembangunan industri sebenarnya memiliki dampak positif dapat menyerap tenaga kerja, meningkatkan produktifitas ekonomi, dan dapat menjadi aset pembangunan nasional maupun daerah. Namun kenyataan Masyarakat yang sejak awal telah miskin, kenyataannya semakin termarginalkan dengan kehadiran berbagai jenis korporasi. Korporasi tidak melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) secara baik terhadap masyarakat. Alih-alih melibatkan dan memberdayakan masyarakat sekitar dengan melakukan community development, korporasi cenderung membuat jarak dengan masyarakat sekitar. Jika pun ada program yang dilakukan oleh korporasi, biasanya bersifat charity, seperti memberi sumbangan, santunan, sembako, dan lain-lain. Program charity ini menjadi dalih bahwa mereka juga memiliki kepedulian sosial. Dengan konsep charity, kapasitas dan akses masyarakat tidak beranjak dari kondisi semula, tetap marginal. Charity menjadi program yang tidak tepat sasaran karena tidak bisa memutus rantai kemiskinan dan benang kusut pendidikan.


Pentingnya keterlibatan masyarakat telah ditegaskan oleh undang-undang. Pasal (5), (6), (7) UU Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun 1997 menerangkan mengenai hak, kewajiban dan peran masyarakat atas lingkungan hidup. Pasal ini kemudian dipertegas dengan Pasal (33) dan (34) PP RI No. 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, tentang keterbukaan informasi dan peran masyarakat.


Pelibatan masyarakat sekitar dalam perencanaan, pembangunan dan jalannya kegiatan korporasi menjadi krusial. Pelibatan dengan cara-cara yang baik, dapat memunculkan pengertian masyarakat akan maksud dan tujuan projek. Selain itu, pelibatan juga merupakan mekanisme check & balances antara pihak masyarakat dengan pihak korporasi.


Pertemuan antarkorporat dunia di Trinidad pada ISO/COPOLCO (ISO Committee on Consumer Policy) workshop 2002 di Port of Spain dalam pokok bahasan 'Corporate Social Responsibility-Concepts and Solutions', menegaskan kewajiban korporat yang tergabung dalam ISO untuk menyejahterakan komunitas di sekitar wilayah usaha.


CSR atau Kewajiban Mereklamasi

Memang sampai saat ini belum ada pengertian tunggal mengenai Corporate Social Respinsibility (CSR). Tapi jika ditarik benang merahnya, CSR merupakan bagian stategi bisnis korporasi yang berkaitan dengan kelangsungan usaha dalam jangka panjang. Di Indonesia sendiri, definisi dan praktik CSR masih terus di gulirkan dengan trademark tanggungjawab social perusahaan.
Sedangkan untuk reklamasi sudah jelas, ada atau tidak ada CSR perusahaan apa saja yang bergerak di penambangan tetap harus melakukan kegiatan reklamasi terhadap lahan yang telah di eksploitasi. Untuk hal ini rasanya kita perlu keterbukaan yang lebih dari setiap pengusaha YANG TERKAIT DENGAN PENAMBANGAN untuk mensukseskan green Babel sebagai wujud tanggungjawab social perusahaan atau memang itu adalah dana yang wajib di keluarkan untuk reklamasi.


Hal ini menjadi penting untuk di ungkapkan, karena Ketidakterbukaan sebuah korporasi dengan cara memberikan informasi yang tidak lengkap mencerminkan dan mengindikasikan korporasi tersebut masih menggunakan paradigma lama, yaitu mengejar keuntungan yang setinggi-tingginya tanpa mempedulikan kondisi masyarakat sekitar. Hal sepert ini suatu saat akan mengakibatkan perusahaan mengalami kesulitan karena suatu saat masyarakat akan tahu bahwa sebetulnya itu bukan tanggung jawab social perusahaan yang di amanahkan dalam CSR tapi KEWAJIBAN REKLAMASI.


GOD LUCK Semoga dengan semangat, kejujuran dan keikhlasan dari pelaku bisnis penambangan di negeri ini Bangka Belitung menghijau dimasa masa yang akan datang melalui proyek GREEN BABEL yang telah dicanangkan oleh Gubernur kita Eko Maulana Ali. Sehingga anak cucu kita tidak perlu khawatir akan kesulitan bernafas kekurangan oksigen karena sumberdaya oksigennya tetap terjaga melalui GREEN BABEL.


Terakhir atas nama anak cucu saya ucapkan terimakasih Pak Gubernur Eko Maulana Ali Suroso (EMAS)

LASKAR PELANGI DAN ANDREI HIRATA


Pertama kali ku mendengar buku tersebut dari seorang teman yang kebetulan Sekretaris Muhammadiyah Babel Bung Hasan Rumata bukan Hasan Hirata, WAKTU ITU kira kira bulan November 2007.

Di pagi yang cerah saat panas terik matahari tak seberapa panas mencium permukaan bumi, kami berbincang bincang disela sela acara penanaman pohon, maklum hampir disetiap daerah sekarang sedang ganjen ganjen nya tanam pohon, sangking ganjennya menanam mereka lupa pelihara. Akhirnya yang ditanam mati semua.!!! Dalam perbincangan tersebut tiba tiba bung Hasan berujar

Hasan : Kemarin kami membahas tentang Ibu guru yang ada dalam cerita Laskar Pelangi
Saya : LAskar Apa itu ?
Hasan : HAhaha payah kamu ini, katanya aktivis berat tapi malah belum tahu tentang Laskar Pelangi
Saya : (Merasa serba salah juga bingung) Oke deh tolong jelaskan sebenarnya laskar itu ada dimana dan berjuang untuk apa.


Itulah sekelumit pembicaraan ku dengan Hasan Rumata yang setengah menelanjangi ketidak tahuan dan kesempitanku tentang perkembangan dunia satra di negeri ini, harap maklum karena sampai dengan sekarang yang ada dibenak ku kalau dunia sastra adalah Ko Ping Ho dari mulai Bu Kek Siansu, Suling Emas, Cinta bernoda Darah hingga pendekar PulauES...


Singkat cerita setelah dua bulan dari pembicaraan tersebut saya baru beli buku tersebut di Gramedia Pangkalpinang, ups................ Lucu, Bangga, Sedih, Gembira, terbuai ke alam khayalan, terbawa ke masa lalu kaum borjuis, Luaaaaaaaaarrr biasa buku ini saya fikir wajib di baca oleh seluruh kalangan, dari masyarakat petani, nelayan, siswa, guru, pejabat, pengusaha, teman teman ku karyawan PT Timah.

Sedih, bagaimana tak sedih bila kita melihat sebuah sekolah yang membawa pesan moral keagamaan tersebut, saat itu harus terancam kolaps untunglah ada seorang calon murid yang mereka anggap memang tak pantas diterima disekolah lain karena bisa dipastikan sekolah lain akan menolak karena bebalnya si calon murid tersebut. Dengan menerima murid itulah akhirnya SD Muhammadiyah para laskar pelangi bisa bertahan.

Bangga dan Heroik, jelas membersit kebanggaan di alam bawah sadarku manakala seorang bocah nelayan yang merupakan anggota laskar pelangi tersebut harus mengayuh sejauh 40 km untuk pergi sekolah dan 40 km lagi untuk pulang dan seringkali dalam perjalana tersebut dia harus berpapasan dengan Buaya yang tidur melintang badan jalan. Lintang seorang anak Super Genius yang akhirnya harus putus di tengah jalan karena ditinggal mati oleh Bapaknya yang membawa pergi harapan lintang untuk menempuh pendidikan lebih tinggi.

Bingung, bagaimana saya tak bingung jika dalam buku tersebut banyak sekali kosa kata yang aneh aneh di telinga ku, sehingga aku harus bolak balik ke halaman belakang untuk sekedar mencari tahu apa arti kata demi kata yang dimaksud oleh Hirata..... dan di akhir cerita aku baru tau ikal itu Hirata.....

Masa Lalu, kebetulan aku beberapa kali ke manggar dan melihat akhirnya ikut andil juga dalam proses perobohan sebuah monumen listrik terbesar di Asia Tenggara. Nah saat membaca Laskar pelangi walaupun ku tidak pernah tinggal di manggar tapi rasanya raga ku mampu melihat situasi waktu itu di Istana istana Borjuis yang di maksud Bung Hirata. Ada sesal di hati ku mengapa aku tak mampu berbuat apa apa saat tahu dan emlihat monumen tersebut akhirnya rata dengan tanah.

SUKSES
"SEBUAH KARYA SPEKTAKULER SASTRA INDONESIA"

Senin, 14 Januari 2008

INDONESIAKU TIMAHKU



INDONESIAKU


NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA SEJAK MASA KRISIS 1997 TERUS MENERUS DALAM KONDISI LABIL, SATU DAERAH YANG MERUPAKAN WILAYAH KESATUAN REPUBLIK INDONESIA TELAH LEPAS DENGAN INTERVENSI PIHAK ASING, POTENSI PERPECAHAN JUGA MASIH TERJADI DI ACEH, MALUKU DAN IRIAN JAYA. POTENSI PERPECAHAN TERSEBUT DARI HARI KE HARI TIDAK KUNJUNG SELESAI.

PEREKONOMIAN NEGERI INI SEMAKIN TERPEROSOK KE JURANG HUTANG YANG SEMAKIN DALAM, HUTANG 75,4 MILIAR DOLAR AMERIKA BUKAN KABAR MENGGEMBIRAKAN BAGI RAKYAT NEGERI INI. KETIDAK ADILAN MUNCUL, BETAPA TIDAK, SEORANG BAYI YANG LAHIR DALAM KONDISI SUCI BERSIH TANPA DOSA LANGSUNG TERBEBANI HUTANG YANG CUKUP BESAR. PARA PENGUSAHA YANG MENANAMKAN INVESTASI SATU PERSATU ANGKAT KAKI. KENAPA? KARENA NEGERI INI SECARA EKONOMI TIDAK LAGI MEMILIKI KEUNGGULAN ABSOLUT MAUPUN KOMPARATIVE. PADA AKHIRNYA PENDAPATAN NEGERI INI MELULU DIPRIORITASKAN PADA PAJAK YANG ARTINYA MEMBEBANI LANGSUNG KEPADA RAKYAT NEGERI INI.

PENDAPATAN PERKAPITA NEGARA INI YANG BERADA PADA LEVEL US$500 MASIH MENEMPATKAN KITA PADA KELOMPOK NEGARA MISKIN WALAUPUN BARU BARU INI ADA KABAR STATUSNYA MENINGKAT LEBIH BAIK SATU TINGKAT TAPI TETAP MASIH DI KATAGORIKAN MISKIN. KESALAHAN PENGURUSAN KETATANEGARAAN, KEDUNIAUSAHAAN ATAUKAH POLITIK. SEHINGGA KITA HARUS TERPURUK, JATUH, LALU TERSEOK SEOK HINGGA SAMPAI DETIK INI PUN UNTUK BANGUN DARI KETERPURUKAN TADI SANGAT SULIT.

DUNIA POLITIK MERUPAKAN PENYUMBANG DANA KORUPSI YANG PALING BESAR, PALING TIDAK TERMASUK DALAM LIMA BESAR URUTAN TERATAS. MENDIRIKAN PARTAI, MENJADI ANGGOTA LEGISLATIF, DAN MENJADI EKSEKUTIF TERTINGGI DI SATU DAERAH PEMERINTAHAN MEMERLUKAN DANA YANG SANGAT BESAR. SATU KESALAHAN PALING MENDASAR ADALAH SAAT MENDIRIKAN PARTAI PARA PENDIRI ITU MASIH BERPIKIRAN SEPERTI MENDIRIKAN LSM YANG MENGHARAPKAN DAPAT KUCURAN DANA SANA SINI, KEMUDIAN UNTUK MENJADI ANGGOTA LEGISLATIF DAN EKSEKUTIF YANG DI BOYONG ADALAH WACANA DUNIA USAHA.
SEHARUSNYA, SAAT MENDIRIKAN PARTAI CITA CITANYA ADALAH UNTUK BERKOMPETISI MENJADI PENGUASA YANG BAIK DI NEGERI INI. ARTINYA UNTUK MENJADI SEPERTI ITU TERLEBIH DAHULU SESEORANG ATAUPUN SEKELOMPOK ORANG HARUS DIDUKUNG DENGAN KEMAMPUAN INTELEKTUAL, KEMAMPUAN EMOSIONAL, KEMAMPUAN SPRITIUAL, KEMAMPUAN EKONOMI, DISAMPING HARUS MEMILIKI VISI MISI YANG JELAS.


CARUT MARUT HUKUM SEAKAN TIDAK PERNAH ADA HABIS HABISNYA, SEORANG PENCURI AYAM BISA TERKENA HUKUMAN ENAM BULAN SEMENTARA BIANG KORUPTOR BERKAT DANA HASIL USAHANYA DI GUNAKAN UNTUK MENAMBAL SULAM PARA APARAT(OKNUM) NEGERI INI, DIA MASIH BISA TERSENYUM SANA SNINI. AROGANSI HUKUM TERTATA HANYA KARENA SEJUMLAH DANA.

TIMAHKU

INDONESIAKU DALAM SEKALA KECIL ”TIMAHKU” SEJAK 1997 TERUS KEHILANGAN WILAYAHNYA, SATU PERSATU WILAYAH YANG BISA DI EKSPLOITASI LEPAS DENGAN CARA DILEPAS ATAU TERLEPAS. POTENSI PENCIUTAN WILAYAH PUN MASIH TERUS TERJADI ENTAH KARENA KITA LALAI ATAU KARENA ARENA PERMAINAN DENGAN ”RULE” YANG MERUGIKAN KITA ALIAS ”NOT IN THE SAME GAME RULE LEVEL ” SEHINGGA KITA HARUS BERJUANG EKSTRA KERAS UNTUK TERUS BERTAHAN.

PEREKONOMIAN TIMAHKU, KITAPUN TAHU, ORANGPUN TAHU, DIA PUN TAHU, AKU PUN TAHU. ANALISA DEMI ANALISA DALAM BENTUK BERBAGAI MACAM RASIO HARUS DIKELUARKAN AGAR DAPAT MEMBERIKAN INFORMASI YANG AKURAT KEPADA PIMPINAN PERUSAHAAN SEBAGAI BAHAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG TEPAT AGAR SECARA BISNIS KEEKONOMIAN TIMAHKU DAPAT BERADA DALAM TREND POSITIF.. PERLAHAN DAN ITU PASTI.
PALING TIDAK TIMAHKU TAK IKUT IKUT MEMBERI SUMBANGSIH HUTANG KEPADA NEGERIKU DAN GENERASI ANAK CUCUKU.

BERBEDA DI NEGERI INDONESIAKU, DINEGERI TIMAHKU PENDAPATAN PERKAPITA LUMAYAN TINGGI SETIDAK TIDAKNYA BISA MENCAPAI US$3000. MUDAH MUDAHAN KITA TERMASUK ORANG ORANG YANG PANDAI MENSYUKURI NIKMAT.

DUNIA POLITIK DI TIMAHKU SEPERTINYA TIDAK ADA YANG ADA HANYA JABATAN POLITIS DAN STRATEGIS UNTUK KEPENTINGAN BISNIS.
ADA BAIKNYA JUGA SUPAYA TIMAHKU TIDAK TERTULAR PENYAKIT DUNIA POLITIK YANG KATANYA MENJADI PENYUMBANG KORUPSI CUKUP BESAR.
JADI DISINI NDAK PERLU KITA BERCITA CITA JADI LEGISLATIF MAUPUN EKSEKUTIF CUKUP TUNJUKAN KINERJA BAIK BERSAING SEHAT TIDAK PERLU SIKUT KIRI SIKUT KANAN, PADA DASARNYA MANUSIA TIMAH BERSAUDARA DENGAN PEDOMAN ”K3PTPRS” NYA YANG MUDAH MUDAHAN BELUM HILANG.
MUDAH MUDAHAN AKAN TERCIPTA MANUSIA MANUSIA TIMAH YANG UNGGUL SEPERTI KITA HARAPKAN BEBERAPA TAHUN YANG LALU.

CARUT MARUT HUKUM DI DUNIA LUAR TERKADANG JUGA BERIMBAS DI NEGERI TIMAHKU. NAMUN DENGAN SEBUAH KEYAKINAN DAN KETEGARAN SERTA KEBERSAMAAN MANUSIA TIMAH, CARUT MARUT ITU NDAK PERLU DITAKUTI. YANG PALING PENTING BAGAIMANA KITA BISA BERMAIN DI ARENA PERMAINAN YANG SAMA, ATURAN MAIN YANG SAMA SEHINGGA BISNIS PUN TUMBUH DALAM PERSAINGAN YANG SEHAT.



JAYA PT TIMAH TBK

DI USIAMU YANG KE 30

TERANG MEMANDANG
JELAS MENDENGAR
MATANG BERPIKIR
JERNIHKAN HATI

BY KRIOPANTING

MENGUNJUNGI STAND GREEN BABEL EXPO DI BALI

* UN Climate Change Conference 2007

Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi


NUSA DUA -- Sedikitnya 200 peserta Konferensi Internasional Perubahan Iklim 2007 (UNCCC) mengunjungi stand Green Babel Ekspo di Nusa Dua, Bali. Dalam kunjungannya, para peserta tertarik dengan gambaran lingkungan Babel yang diwarnai aktifitas penambangan timah. Diantaranya, ada juga yang bertanya soal kontribusi perusahaan tambang yang ada di Babel terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat."Ada pengunjung yang menanyakan semacam share atau bagi hasil antara perusahaan tambang dengan masyarakat. Menurut dia, perusahaan tambang tidak cukup hanya memberikan royalti atau pajak, tapi perlu ada semacam share seperti misalnya bagi bagi saham," ungkap Wirtsa Firdaus, sekretaris Yayasan Babel Hijau (YBH), saat dihubungi Bangka Pos Group, Minggu (9/12).


Wirtsa mengatakan stand Green Babel Ekspo merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan YBH dalam keikutsertaannya di UNCCC 2007. Sejak dibuka pada 7 Desember lalu, stand tersebut cukup menarik perhatian peserta UNCCC baik dari dalam maupun luar negeri.


Berdasarkan catatan YBH, sedikitnya 200 peserta telah mengunjungi stand Green Babel Ekspo.Mengenai masukan-masukan yang dilontarkan para pengunjung, Wirtsa meyebutkan YBH akan menampungnya sebagai bentuk saran. Pasalnya, dalam UNCCC 2007, YBH hanya ingin memperlihatkan kepada dunia tentang kondisi lingkungan Babel saat ini. Hal itu pun telah disampaikan YBH saat bertemu dengan perwakilan United Nations Development Programme (UNDP) yang ditemui di sela-sela acara UNCCC 2007."Kita bilang ke UNDP bahwa kita tidak membutuhkan uang mereka. Yang kita mau adalah UNDP datang langsung ke Babel untuk melihat kondisi lingkungan di sana. Soal uang, itu urusan yang kesekian lah," ujarnya seraya menambahkan ada beberapa agenda lain yang belum bisa dilaksanakan YBH yaitu bertemu dengan aktifis lingkungan Green Peace serta pertemuan dengan investor Austria yang sekaligus diikuti penandatanganan MoU untuk penanaman jatropha dan pembuatan pabrik.Seminar InternasionalDi sela-sela pelaksanaan UNCCC, kegembiraan begitu terasa ketika usulan YBH untuk menyelenggarakan seminar internasional, yang bertajuk International Seminar from Bangka Tailing, ditanggapi secara antusias oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).Melalui salah seorang staf ahli KLH, Rasio Ridho Sani, KLH akan mendukung penuh kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperbaiki kondisi lingkungan Babel itu. Roy, sapaan akrab Rasio, juga menyatakan dukungannya dalam masalah teknis hingga lobi pihak luar negeri untuk mensukseskan kegiatan tersebut."Kita dari YBH juga berupaya agar kegiatan itu bisa terlaksana," tegas Wirtsa yang didampingi Ketua YBH Syahidil.Sementara itu, Pengawas YBH,


Tunggul Pakpahan mengatakan keikutsertaan YBH dalam UNCCC 2007 merupakan langkah yang tepat. Sebab, UNCCC diselenggarakan untuk membahas kepedulian dunia akan global warming (pemanasan global) yang sedang terjadi sebagai akibat dari pengelolaan lingkungan yang tidak tepat."Disini green babel foundation harus mampu menyerap apa yang menjadi konsep dunia tentang pengelolaan lingkungan yang benar," begitu dikatakan Tunggul seperti ditirukan Wirtsa.Tunggul menambahkan salah tujuan lain YBH mengikuti UNCCC berkaitan dengan rencana penyelenggaran seminar seperti yang telah dikatakan Wirtsa. Menurutnya, UNCCC 2007 adalah tempat yang tepat untuk mensosialisasikan kegiatan yang rencananya akan dilaksanakan di atas lahan bekas galian timah pada tahun 2008."Kita jadikan moment Bali ini untuk mensosialisasikan kegiatan di Bangka nanti," pungkasnya. (*)
Diposting oleh Didit di 14:31:00

TIGA KEBERUNTUNGAN PT TIMAH 20 TAHUN TERAKHIR


APA KABAR....LUAR BIASA, yel yel seperti ini tidak lagi sering terdengar seperti beberapa tahun yang lalu di PT Timah Tbk dan perusahaan anak, hebatnya walaupun musim yel yel tersebut sudah berlalu tetapi GHIROH atau semangat dari yel yel tersebut tampaknya pada saat ini telah membuahkan hasil. Harga saham yang merupakan salah satu indikator kinerja manajemen semakin meningkat yang sempat beberapa tahun berkutat pada angka Rp.1000,- an saat ini mencapai harga tertinggi dalam sejarah harga saham Timah yaitu sampai dengan Rp.22.000 per lembar saham. Sementara harga logam timah dunia juga semakin membaik hingga menembus US$.16.000/ton seiring dengan kesadaran pemerintah untuk menertibkan industri pertimahan di negeri ini.

Belum lagi kedepan harga minyak yang di perkirakan mencapai US$ 100 per barel sementara pemerintah tetap akan memberikan subsidi, hal yang terjadi adalah semakin banyaknya kebutuhan negeri ini terhadap US $. Semakin beratlah Bank Indonesia melaksanakan tugasnya untuk menggiring Rupiah ke angka di bawah Rp. 9.000 per US$. Tentu saja perusahaan sejenis PT Timah yang memperdagangkan produksinya mayoritas ke luar negeri akan sangat diuntungkan.

WOW funtastic. . .mungkin sebuah kata yang patut kita ucapkan saat mendengar harga logam timah dunia seperti itu dengan jumlah karyawan yang mungkin hanya 4.500 an orang, BAYANGKAN awal 90an saat harga timah bergerak dibawah US$5000/ton dengan karyawan hampir mencapai 25 .000 orang.

KPK I : KEBERUNTUNGAN PASKA KUNTORO

Bijih timah sebuah mineral yang tak dapat di perbaharui sebuah kata sepakat yang tidak terbantahkan, lalu kapan bijih timah segera habis. Masih belum lepas dari ingatan, saat itu mungkin pertengahan tahun 90an dalam setiap pertemuan dengan karyawan, rapat dengan pemegang saham, dengar pendapat dengan DPRD dan lain lain pihak yang berkepentingan (stake holder) Dirut PT Timah selalu mengatakan bahwa bijih timah tinggal 25 tahun. Artinya umur perusahaan saat ini tidak sampai lagi 10 tahun.

Sebuah statement yang seperti bermata dua, mata pertama, menjadi alasan kuat saat itu bagi manajemen PT Timah untuk mensuport kebijakannya guna melakukan pengurangan karyawan perusahaan, sehingga kapal besar tersebut selamat mengarungi bahtera bisnisnya walaupun harus dengan mengorbankan crew atau awak kapal yang tidak kurang dari 18 ribuan orang.

Mata kedua berfungsi menjadi tameng perusahaan, terbukti saat kapal tersebut mampu mengarungi bisnisnya dengan sukses lalu mendapat celaan terhadap kebijakan pertamanya, manajemen tinggal mengatakan bahwa saat itu perusahaan sedang menghadapi masalah harga yang merupakan faktor eksternal yang tak dapat dikendalikan. Karena harga terbentuk dari mekanisme pasar (suply dan demand) komoditi logam.

Soal cadangan yang hampir habis, ternyata bukan habis dalam arti sebenarnya tapi habis dalam pemahaman kajian bisnis. Jelasnya kalau harga tidak bergerak kearah yang baik kandungan bijih timah dapat dikatakan habis karena tidak ekonomis untuk di eksploitasi. Dengan harga seperti saat ini tentu saja cadangan cadangan yang terdapat pada daerah tambang dengan katagori "Tambang berbiaya tinggi" dan telah dikatagorikan habis, kembali muncul kandungan bijih timahnya karena menjadi ekonomis untuk di tambang.

Dan PT Timah Tbk harus merasa beruntung karena memperoleh seorang Direktur Utama Brilliyan yang berhati halus walaupun kepala selalu panas, sehingga kebijakan pedang bermata dua tersebut dapat berjalan dengan baik dan perusahaan selamat. Dialah Dr. Ir Kuntoro Mangkusubroto MSc yang mampu memotori kebijakan itu dengan dingin, sehingga 18 ribu karyawan dalam sekejap telah mendekam dirumah(dirumahkan) tanpa ada gejolak berarti, bandingkan di negara2 lain Korea misalnya, hanya merumahkan 600an karyawan gaung ributnya sampai dipuncak himalaya.


Kejadian demi kejadian tersebut ternyata juga direkam oleh seorang Andrera Hirata Pengarang Best Seller "Laskar Pelangi" Paling tidak terdapat empat Bab pada bukunya yang mengulas tentang keberadaan PT Tambang Timah di Pulau Belitung dari masa jaya yang di gambarkan sebagai golongan Borjuis, sampai dengan masa masa keambrukannya yang digambarkan dengan sangat ironis bagaimana kaum Proletar menghakimi kaum Borjuis dengan cara merambah dan mencacah kompleks Gedong yaitu sebuah komplek perumahan kaum Borjuis. Saya fikir buku ini wajib di baca oleh seluruh karyawan PT Timah saat ini sebagai sebuah pembelajaran yang sangat berharga.

Hebatnya untuk suksesi kepemimpinan sehingga kebijakan tersebut dapat terselamatkan, sang Brilyan (Kuntoro) telah menyiapkan seorang putera mahkota yaitu satu satunya Dirut Timah yang selebritis Erry Riyana Hardjapamekas. Tahapan ini dapat di sebut "Keberuntungan Perdana Kuntoro"(KPK I)


KPK II : KEBERUNTUNGAN PASAR KAGET



Patutlah jika seandainya tahun 1997 Soros datang di Indonesia khususnya di Pulau Bangka dan lebih khusus lagi di PT Timah, kemudian dia berteriak kepada manejemen perusahaan "Apa Kabar" maka dewan manajemen perusahaan ini wajib membalas salam tersebut dengan selantang lantangnya "Luar Biasa".

Mengapa demikian?

Soros, seorang fund manager handal baik di money market maupun stock market, telah mengguncang Asia Tenggara melalui mekanisme pasar uang. Indonesia yang memang secara fundamental sangat lemah karena hutang luar negeri menumpuk dan berbasis US$ tanpa hedging yang jatuh tempo pada akhir tahun serta Neraca perdagangan yang defisit. Negeri ini dan masyarakatnya kembali harus menerima nasib menjadi sasaran empuk Soros. karena menganut kebijakan floating rate yang katanya memang produk kaum borjuis kapitalis. Alhasil terpuruklah Indonesia.

Memang tak baik berdiri diatas penderitaan orang lain apalagi orang lain tersebut adalah saudara satu bangsa dan setanah air. Namun demikianlah kenyataannya PT Timah yang 95% produknya menjadi komoditas eksport kembali mengambil keuntungan dari melemahnya rupiah terhadap dollar, keuntungan ratusan milyar rupiah. Walaupun pada saat bersamaan PT Timah mengalami kerugian sangat besar dari transaksi valasnya namun dapat diantisipasi dengan melakukan resceduling disamping tertolong dengan penjualan yang 95% eksport tersebut.

Fase ini dapat dikatakan sebagai fase "Keberuntungan Pasar Kaget"(KPK II), dinyatakan dalam satu fase karena akibat dari permainan soros dipasar uang ini dapat dirasakan sampai beberapa tahun dimuka.

KPK III : KEBERUNTUNGAN PASKA KERUSUHAN

Periode pasca reses merupakan periode yang sangat berat buat PT Timah beserta anak perusahaan, seluruh jajaran manajemen bekerja keras memeras keringat memeras otak mencari jalan keluar. Beberapa hal yang patut menjadi catatan manajemen antara lain :
1. PETI atau Timah Inkonvensional atau TI entah istilah mana yang benar yang jelas dilapangan Rakyat kian marak menambang.
2. Regulasi lokal pada tatanan kabupaten dan kota sama sekali tidak berlaku adil, sehingga PT Timah mesti teriak teriak minta diperhatikan agar pemerintah memberikan aturan main yang sama.
3. Akibat regulasi yang tidak jelas muncul pengusaha pengusaha yang sebetulnya tidak dapat dikatakan berinvestasi tapi lebih tepat disebut mencari peruntungan nasib dipulau Bangka
4. Muncul pengusaha eksportir bijih
5. Eksport bijih di larang muncul pengusaha smelter
6. Pengembangan Usaha belum menunjukkan hasil yang baik kecuali batu bara melalui PT Tanjung Alam Jaya dan PT Timah Investasi Mineral,
7. Cash cow tetap pada industri timah.
8. Fakta bahwa keberadaan smelter dalam jumlah banyak telah merugikan negara terus di wacanakan.
9. Konstilasi politik di Bangka Belitung terus memanas berkaitan dengan Pilkada Gubernur Babel 2007
10. Pemerintah pusat mempertegas regulasi pertimahan
11. Penangkapan terhadap pengusaha nakal dan penutupan sementara kegiatan peleburanl sebagai wujud keseriusan pemerintah pusat terus berjalan.
12. Kerusuhan Oktober yang melibatkan masyarakat penambang

Rentetan kejadian tersebut akhirnya mempengaruhi suply komoditi logam timah di pasar komoditi dunia, harga terus bergerak naik sampai melewati US$10,000,- per ton FANTASTIS harga yang tak pernah terjadi sejak tahun 1990. Jelas harga tersebut sangat menguntungkan buat PT Timah Tbk

Kinerja manajemen kembali teruji di Pasar Modal, entah memang fundamental PT Timah yang baik, prospek yang bagus karena regulasi yang semakin tegas atau karena sentimen pasar saja. Sebuah realita, kembali perusahaan diuntungkan dengan kejadian kejadian eksternal yang menurut teorinya adalah sebuah faktor yang uncontrollable atau teorinya yang salah?

Yang jelas tahun 2006 dapat disebut sebagai tahun KPK III saya masih bingung memberi nama panjangnya tapi tak elok lah karena dua kejadian di atas ada nama, bolehlah kalau kejadian periode ini kita sebut "Keberuntungan Paska Kerusuhan". Mudah mudahan tidak ada para pihak yang merasa dirugikan dengan penyebutan KPK ini. Karena kesamaan nama atau istilah hanya kebetulan belaka.

REGENERASI KEPEMIMPINAN



Tantangan kedepan sangat berat isue lingkungan yang mendunia itu telah semakin santer ke seluruh pelosok penjuru mata angin hingga ke ujung gang sempit sebuah desa yang berakhir di jalan tikus menuju hutan yang masih tinggal tak seberapa. Bali Road Maps yang merupakan puncak dari keberhasilan Protokol Kyoto telah di terima seluruh negara.


Sebagai sebuah perusahaan penambangan yang telah mendunia tentu saja Para Pemuncaknya menyadari bahwa tambang identik dengan pengrusakan lingkungan sehingga suka tak suka, mau tak mau PT Timah harus melakukan penambangan yang berwawasan lingkungan tentu saja hal ini berlaku untuk seluruh perusahaan tambang.


Deforestasi harus di ikuti dengan forestasi, pemanfaatan kekayaan alam haruslah di akhiri dengan menumbuhkan dengan jenis pemanfaatan yang lain ini lah sustainable mining. Berat memang, hight cost memang, tapi mau bilang apa. Dunia telah semakin Tua dan semakin panas, tentu perusahaan sebesar PT Timah tak ingin dikatakan sebagai sebuah perusahaan kelas dunia yang tidak berfihak kepada lingkungan.

Dilain sisi lain dari beratnya isue lingkungan tersebut tidak ada satupun kajian bisnis yang berani memasukan unsur keberuntungan dalam setiap kajian prospek bisnis, walaupun pada kenyataannya dalam kasus PT Timah seolah olah terjadi perulangan keberuntungan dalam menjalankan bisnisnya. Kecuali kalau kajian bisnis itu bukan dibuat oleh seorang ekonom tapi oleh seorang ahli supranatural yang selalu mengandalkan daya terawangnya.
PT Timah adalah perusahaan yang memiliki ahli ahli yang cukup berkompeten Strategy maupun teknis, belum 1 (satu) tahun berselang telah terjadi regenerasi kepemimpinan. Tentu saja pemimpin pemimpin sekarang dan yang akan datang seyogyanya adalah pemimpin yang tidak selalu bersandar kepada keberuntungan walaupun ada ujar ujar orang tua yang selalu mengatakan CARILAH PERUNTUNGAN pada saat anaknya mau merantau. Dengan demikian perusahaan ini tidak menjual keberuntungan tetapi menjual prospek kepada para stake holder di tengah tengah BERATNYA ISUE LINGKUNGAN.



Green Greeting

CATATAN THE GREENERS DARI PUNCAK JAYA WIJAYA




Perjalanan para anggota Yayasan Babel Hijau yang dikenal dengan sebutan The Greenrs Ke puncaj Pegunungan Jayawijaya berlatar belakang kunjungan The Greeners ke Kementerian Lingkungan Hidup.

Pada pertengahan September 2007 dalam pertemuan Pengurus yayasan Babel Hijau (melaporkan dan mensosialisasikan keberadaan yayasan) dengan beberapa staff Kementerian Lingkungan Hidup telah terjadi diskusi.
Diskusi berkisar tentang lingkunagn dari kondisi Babel yang kritis, perusahaan tembang di Babel yang tak becus dalam melakukan penambangan, maraknya semelter yang tak bertanggungjawab terhadap lingkungan bahkan asmpai kepad pimimpin darah yang ikut ikutan memberi su,bangan terhadap kerusakan lingkungan tersebut.

Akhir dialog tersebut tanpa memiliki titik temu, masing-masing bertahan dengan argument dan pemikiran masing-masing, akhirnya staff kementerian Lingkungan Hidup menawarkan kepada The Greeners untuk melihat bentuk penambangan yang secara teknis penambangan dapat dikatakan layak dan memenuhi kreteria pengelolaan lingkungan yang pasti rusak sebagai akibat pengelolaan kegiatan penambangan.

PT Preeport Indonesia (PTFI) sebuah perusahaan tambang yang beroperasi di ketinggian 4200 meter dari permukaan laut di daerah Timika Irianjaya akhirnya menjadi pilihan dan pihak Kementerian Lingkungan Hidup menjadi Fasilitator kunjungan The Greeners ke perusahaan tersebut.

PT Feeport Indonesia
Perusahaan tambang tembaga dan emas yang telah beroperasi sejak akhir tahun 1960an di kawasan pegunungan Jayawijaya yaitu Erstberg dan Grasberg di ketinggian 4.200 meter.Kontrak kerja baru yang telah ditandatangani mensyaratkan PT Feeport Indonesia untuk terus menambang hingga akhir 2020 dan tambahan perpanjangan hingga 2 kali 10 tahun.

Saat ini PTFI adalah perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia bahkan dunia dengan mengantongi izin 300.000 ton pemindahan tanah atau konsentrat per hari berarti mereka telah mampu melakukan penggalian sebesar 225.000 ton perhari berarti meekan dalam setahun pemindahan tanahnya sebesar 81 Juta ton dengan kosentrat emas tembaga 3% mereka menghasilkan lebih dari 2,43 juta ton kosentrat per tahun.Bisa dibayangkan, dengan demikian tedapat tailing yang harus dikelola sebanyak 78 Juta ton per tahun.

Pengelolaan tailing PTFI dengan jumlah yang demikian besar tentunya memerlukan penanganan khusus.Oleh PTFI tailing dialirkan ke dataran rendah melalui aliran sungai Ajkwa dan dikumpulkan dalam satu lokasi yang luasnya sebesar 230 km2. Wow tentu bukan pekerjaan main-main karena luasnya lebih sari separuh luas DKI Jakarta.
Manajemen Tailing PTFI
PTFI telah mengelola pasir sisa tambangnya (sirsat) dengan sangat baik di areal ModADA.Pemisahan tailing dari sumber air masyarakat melalui pembuatan tanggul (Levee) sepanjang 54 km disisi timur dan barat sangat efektif.

Pembuatan levee ini sangat penting, ketersediaan air yang merupakan sumber kehidupan masyarakat timika menjadi bertambah baik karena sungai Aijkwa yang tadinya begabung menjadi satu dengan sungai Otomona di ModADA telah dipisahkan sehingga menjadi lebih jernih karena tak lagi tercemar.

Dalam penampungan srsat itu sendiri diatur sedemikian rupa dengan pemasangan Grabion Groundsil (bronjong) yaitu dam penahan sirsat yang membentang dari sisi levee barat samapai levee timur di hulu ModADA sehingga dapat meminimalisasi sirsat yang hanyut ke laut.Groin dan Crib (sodetan) pun di buat untuk mengatur penumpukan tailing di sepanjang daerah aliran ModADA seluas 230km2 tersebut.

Sekilas Babel dan Timika
Jika membandingkan penambangan emas dan tembaga di timika dengan penambangan Timah di Babel ibarat bumi dan langit.Hutan dan bukit dibabel tidak selebat dan setinggi hutan dan gunung di Papua.
Kondisi ini menyebabkan terjadi perbedaan penambangan untuk mendapatkan bijih mineral.Dibabel untuk mendapatkan bijih timah masyarakat cukup menggunakan cangkul bahkan dengan menggunakan dulang.Sedangkan para pengusaha dengan modal yang kuat menggunakan eskavator lalu timah yang didapat diolah itupun masih dengan teknologi yang sederhana, pasir yang didapat kemudian diolah dan timah siap dijual.Cara ini cukup sederhana dan mudah dikerjakan.Terlebih lagi ada peraturan yang ketat dari pemerintah.
Akibatnya bisa ditebak bermunculan para pengusaha (smelter) menambah jumlah perusahaan timah setelah PT Timah milik pemerintah dan PT Koba (patungan pemerintah, swasta dan asing).Keempat unsure inilah yang saat ini mengeruk timah di Babel.Hasilnya sungguh ‘manakjubkan’.Lingkungan di Babel jadi hancur berantakan.Empat unsur di atas saling lempar tanggungjawab terhadap kerusakan lingkungan.lalu siapa yang harus bertanggung jawab kemana harus mengadu.
The Greeners sempat terdiam ketika Presiden Direktur PTFI Armando Muhler, bertanya tentang kondisi alam di Babel dan bagaimana penambangannya pasca penambangan.”Kalau dilihat dari udara bumi Bangka itu bopeng kayak orang jerawatan”kata Armando dalam kesempatan makan malam di Lupa Lelah Club, Kota Tembagapura, Kamis (15/11) malam.
Armando yang berasal dari palembang tahu benar dengan kondisi alam di babel karena sudah pernah mengelilingi Pulau Bangka.
Setelah mendengar pernyataan tersebut akhirnya The Greeners memaparkan kondisi alam di Bangka yang justru memperkuat pernyataan Armando.

Sedangkan PTFI adalah satu satunya perusahaan asing yang mendapatkan kontrak karya menambang di Provinsi Papua tepatnya di Kabupaten Mimika.Tidak ada perusahaan lain jika ada warag yang menambang dilakuakn dengan cara sederhana.Warga hanya dapat menambang dipinggir Sungai Ajkwa dan dengan alat sederhana yaitu kuali yang terbuat dari kayu.Hasilnyapun sedikit sekali karena mereka melimbang dari tailing PTFI.
Untuk mendapatkan emas dan tembaga diperlukan modal yang besar serta teknogi canggih.Kondisi alam serta hutan perawan Papua menjadi tantangan tersendiri.Daerah penambangan setinggi 4.200 meter dari permukaan laut dengan kadar oksigen yang hanya 14 persen dari suhu 5 derajat Celcius bukan hal mudah untuk ditaklukan.Dengan kondisi yang demikian The Greneers sempat mendapatkan pengarahan untuk tidak melakukan kegiatan fisik yang berlebihan karena akan mudah kelelahan dan pingsan karena kekurangan ogsigen.
Memang terdapat perbedaan mendasar antara penambangan Timah di Babel dengan penambangan emas dan tembaga di PTFI.Jika di Babel terdapat banyak unsur yang mengolah bijih timah maka di Papua hanya PTFI yang mengolah emas dan tembaga.Sehingga di Papua hanya PTFI bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi.Tetapi PTFI serius menggarap ini banyangkan saja hingga Desember 2006 PTFI mengeluarkan dana sebesar Rp.1,4 Triliun hanya untuk reklamasi saja.Anggaran untuk reklamasi ini dipastikan meningkat pada tahun 2007.bandingkan dengan PT Timah yang dari tahun 1998 kingga 2006 hanya menganggarkan dana Rp.50 Miliar untuk reklamasi.Memang sekali lagi tidak adil jika harus membandingkan PTFI dengan PT Timah KARENA TIDAK APLE TO APLE. Tetapi paling tidak PTFI menpunyai kemauan untuk melakukan penambangan dan bertanggung jawab lingkungan sekitarnya.
Tanks…..

HITUNG KOMPENSASI KERUSAKAN




Laporan Wartawan Bangka Pos, M Ismunadi
MANFAAT lain dari perencanaan strategis, selain untuk mengembangkan wilayah pesisir dan pulau kecil, juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah. Setidaknya perencanaan itu bisa memperkirakan besarnya kompensasi, sehubungan penambangan timah yang dilakukan di wilayah pesisir yang dimaksud.Menurut Wirtsa, perencanaan strategis, meliputi pemetaan kekayaan alam yang ada di wilayah pesisir, termasuk terumbu dan lainnya. Dengan demikian, apabila ada produsen timah yang ingin menambang di daerah itu, maka pemerintah bisa memperkirakan kompensasi yang harus dibayar akibat rusaknya kekayaan alam yang ada di sana."Kalau ada kapal hisap beraktiftas di daerah pesisir itu kan pasti mengakibat kerusakan pada terumbu karang. Jadi kalau mereka ingin menambang di sana, pemerintah sudah bisa memperkirakan jumlah kompensasi yang harus dibayar akibat kerusakan itu," ujar Wirtsa yang menambahkan kompensasi juga bisa dihitung terkait kekayaan alam lain yang ada di wilayah pesisir.
"Yang penting terlebih dahulu ada pemetaan yang dilakukan instansi terkait. Pemetaan ini termasuk langkah awal dalam perencanaan strategis seperti yang saya uraikan tadi," imbuhnya.Sebelumnya seperti dilansir harian ini edisi Kamis (15/11) lalu disebutkan, dipastikan 30 persen terumbu karang di Perairan Babel, rusak parah. Padahal terumbu karang merupakan bagian dari habitat atau ekosistem laut yang patut dijaga kelestariannya.Salah satu cara menciptakan terumbu karang buatan, yaitu memasukan barang rongsokan seperti besi dan ban mobil bekas ke dalam laut. "Ratarata kerusakan terumbu karang di Babel sekitar 30 persen. Penyebab aktivitas pencarian bijih timah melalui kapal keruk, tambang inkovensional apung (TI apung), penggunaan alat peledak serta bahan kimia atau putas saat menangkap ikan," kata Yulistyo, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) ketika ditemui Bangka Pos Group bulan lalu, Rabu (14/11).Kerusakan terumbu karang yang paling parah kata Yulistyo, antara lain terdapat di Leparpongok (Basel), Tanjung ular (Babar) dan Selat Nasik (Belitung). Padahal kata Yulistyo, sosialisasi mengenai upaya melestarikan terumbu karang sudah sering dilakukan.Hal senada dikatakan oleh Tunggul Pakpahan, Kepala Badan Pengendali Dampak Lingkingan Daerah (Bapedalda) Babel ketika ditemui beberapa waktu sebelumnya, Rabu (14/11). "Karena terumbu karang dapat menciptakan sistem kehidupan di laut. Terumbu karang saling berkaitan dengan kehidupan di sekelilingnya. Kehidupan terumbu karang sangat sensitif terhadap lingkungan sekitar. Terumbu karang merupakan hewan bukan tumbuhan. Banyak orang yang salah tafsir," kata Tunggul.Lain halnya jika terumbu karang yang sudah mati, menurut Tunggul dinamakan karang. "Sedangkan terumbu karang yang sudah mati disebut karang. Terumbu karang juga dapat membentuk sistem ekologi kehidupan dan sifatnya sensitif mudah mati kalau terkena kotoran." paparnya. (*)