Senin, 26 April 2010
Minggu, 25 April 2010
Serikat Pekerja Krakatau Steel dan Latinusa Kunjungi PT Timah
* Berbagi Pengalaman dan Bertukar Pikiran
PANGKALPINANG – Serikat pekerja PT Krakatau Steel dan PT Latinusa, Selasa, (20/4), bertatap muka dengan ketua serta pengurus Ikatan Karyawan Timah (IKT) Pusat di Griya Timah Pangkalpinang. Selain ingin berbagi pengalaman dan bertukar pikiran mengenai kinerja organisasi, serikat pekerja PT Krakatau Steel dan PT Latinusa juga ingin bertanya mengenai pelaksanaan IPO ( Initial Public Offering) di PT Timah (Persero) Tbk.
Dalam rilis yang diterima wartawan harian ini bahwa, PT Timah (persero) Sebagai salah satu BUMN yang berhasil “Go Public” tahun 1995, PT Timah dianggap dapat melewati IPO dengan baik. Karena itu, PT Krakatau Steel dan PT Latinusa merasa perlu bertukar pikiran dan berbagai pengalaman dengan manajemen dan pengurus IKT Pusat. Dewan Penasehat Serikat Kerja Krakatau Steel, Indra Diraso merasa serikat kerja dan manajemen PT Krakatau Steel merasa perlu menggali informasi sebanyak mungkin mengenai IPO kepada perusahaan-perusahaan yang dianggap telah berhasil melewatinya.Ia berharap dengan kunjungan ke PT Timah Tbk, khususnya IKT akan memberi angin segar bagi seluruh karyawan PT Krakatau Steel.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Serikat Kerja PT Latinusa, Ibrahim. Menurutnya, selain ingin bersilahturahmi, kunjungan ini juga bermaksud untuk mengetahui bagaimana sistem remunerasi di PT Timah Tbk.
Ketua IKT Pusat sekaligus Kepala Humas PT Timah Tbk, M Wirtsa Firdaus menjelaskan, IPO dilaksanakan pada saat PT Timah dibawah kepemimpinan Dirutnya, Erry Riyana Hardjapamekas. Saat itu PT Timah Tbk masih bernama PT Tambang Timah. Selain itu ada perbedaan kondisi antara PT Timah Tbk dengan PT Krakatau Steel dan PT Latinusa. “Situasi politik dan pemerintahan ketika itu jauh berbeda dengan saat ini. IPO dilaksanakan setelah kondisi perusahaan diperbaiki lebih dahulu,” ungkapnya.
Kendati demikian Wirtsa mengakui, hingga saat ini tidak terjadi masalah di perusahaan. PT Timah Tbk hingga sekarang sudah memiliki beberapa anak perusahaan dan sudah melakukan pengembangan usaha. Selain itu, PT Timah Tbk juga berupaya semaksimal mungkin untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Ini dilakukan agar perusahaan dapat lebih fokus lagi pada core bisnisnya. Sebagai organisasi karyawan, menurut Wirtsa, selama ini IKT menjadi jembatan bagi karyawan dan manajemen perusahaan. ”Sepanjang perjalanannya, semua perbedaan persepsi dan pandangan yang terjadi dapat diselesaikan dengan musyawarah serta mufakat,” tandasnya. (rel/ron/6)
PANGKALPINANG – Serikat pekerja PT Krakatau Steel dan PT Latinusa, Selasa, (20/4), bertatap muka dengan ketua serta pengurus Ikatan Karyawan Timah (IKT) Pusat di Griya Timah Pangkalpinang. Selain ingin berbagi pengalaman dan bertukar pikiran mengenai kinerja organisasi, serikat pekerja PT Krakatau Steel dan PT Latinusa juga ingin bertanya mengenai pelaksanaan IPO ( Initial Public Offering) di PT Timah (Persero) Tbk.
Dalam rilis yang diterima wartawan harian ini bahwa, PT Timah (persero) Sebagai salah satu BUMN yang berhasil “Go Public” tahun 1995, PT Timah dianggap dapat melewati IPO dengan baik. Karena itu, PT Krakatau Steel dan PT Latinusa merasa perlu bertukar pikiran dan berbagai pengalaman dengan manajemen dan pengurus IKT Pusat. Dewan Penasehat Serikat Kerja Krakatau Steel, Indra Diraso merasa serikat kerja dan manajemen PT Krakatau Steel merasa perlu menggali informasi sebanyak mungkin mengenai IPO kepada perusahaan-perusahaan yang dianggap telah berhasil melewatinya.Ia berharap dengan kunjungan ke PT Timah Tbk, khususnya IKT akan memberi angin segar bagi seluruh karyawan PT Krakatau Steel.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Serikat Kerja PT Latinusa, Ibrahim. Menurutnya, selain ingin bersilahturahmi, kunjungan ini juga bermaksud untuk mengetahui bagaimana sistem remunerasi di PT Timah Tbk.
Ketua IKT Pusat sekaligus Kepala Humas PT Timah Tbk, M Wirtsa Firdaus menjelaskan, IPO dilaksanakan pada saat PT Timah dibawah kepemimpinan Dirutnya, Erry Riyana Hardjapamekas. Saat itu PT Timah Tbk masih bernama PT Tambang Timah. Selain itu ada perbedaan kondisi antara PT Timah Tbk dengan PT Krakatau Steel dan PT Latinusa. “Situasi politik dan pemerintahan ketika itu jauh berbeda dengan saat ini. IPO dilaksanakan setelah kondisi perusahaan diperbaiki lebih dahulu,” ungkapnya.
Kendati demikian Wirtsa mengakui, hingga saat ini tidak terjadi masalah di perusahaan. PT Timah Tbk hingga sekarang sudah memiliki beberapa anak perusahaan dan sudah melakukan pengembangan usaha. Selain itu, PT Timah Tbk juga berupaya semaksimal mungkin untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Ini dilakukan agar perusahaan dapat lebih fokus lagi pada core bisnisnya. Sebagai organisasi karyawan, menurut Wirtsa, selama ini IKT menjadi jembatan bagi karyawan dan manajemen perusahaan. ”Sepanjang perjalanannya, semua perbedaan persepsi dan pandangan yang terjadi dapat diselesaikan dengan musyawarah serta mufakat,” tandasnya. (rel/ron/6)
PT TIMAH TERIMA PASIR TIMAH SITAAN
Pangkalpinang, (ANTARA) - PT Timah (Persero) Tbk menerima sebanyak 16 ton pasir timah hasil tangkapan di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat setelah pengadilan negeri setempat memutuskan bahwa timah tersebut diserahkan kepada negara sebagai barang hasil sitaan.
"Sebanyak 16 ton pasir timah itu adalah hasil tangkapan pihak Lanal Pontianak karena dinyatakan ilegal, pemiliknya tidak diketahui maka oleh pengadilan negeri Pontianak diserahkan kepada negara sebagai barang hasil sitaan atau PT Timah sebagai perusahaan di bawah BUMN," kata Kepala Humas PT Timah Babel, Wirtsa Firdaus, di Pangkalpinang, Sabtu.
Hal itu dikemukakannya sehubungan diterimanya 16 ton pasir timah yang diangkut oleh kapal Cahaya Indah, dimana timah tersebut adalah hasil tangkapan pada 28 Oktober 2009 untuk diserahkan kepada PT Timah Babel.
"Pemilik pasir timah tersebut tidak diketahui, maka diserahkan kepada PT Timah sebagai perusahaan BUMN yang khusus mengelola dunia pertimahan," ujar Wirtsa.
Ia menjelaskan, pasir timah tersebut harus melalui proses pengujian agar memiliki kualitas ekspor atau sesuai kadar SN-nya.
"Namun yang pasti pasir timah yang diterima pihak PT Timah adalah legal karena sudah melalui proses di Pengadilan Negeri Pontianak," ujarnya.
Sementara itu, Siregar pegawai Adpel Pangkalbalam membenarkan bahwa 16 ton pasir timah tersebut adalah hasil tangkapan di Pontianak untuk diserahkan kepada PT Timah.
"Jumlah pasir timah itu sebanyak 338 karung atau sebanyak 16 ton diangkut oleh kapal Cahaya Indah dan merapat di Pelabuhan Pangkalbalam pada Kamis sekitar pukul 3.00 dini hari, untuk kemudian diserahkan kepada PT Timah," ujarnya.(*/tdy)
"Sebanyak 16 ton pasir timah itu adalah hasil tangkapan pihak Lanal Pontianak karena dinyatakan ilegal, pemiliknya tidak diketahui maka oleh pengadilan negeri Pontianak diserahkan kepada negara sebagai barang hasil sitaan atau PT Timah sebagai perusahaan di bawah BUMN," kata Kepala Humas PT Timah Babel, Wirtsa Firdaus, di Pangkalpinang, Sabtu.
Hal itu dikemukakannya sehubungan diterimanya 16 ton pasir timah yang diangkut oleh kapal Cahaya Indah, dimana timah tersebut adalah hasil tangkapan pada 28 Oktober 2009 untuk diserahkan kepada PT Timah Babel.
"Pemilik pasir timah tersebut tidak diketahui, maka diserahkan kepada PT Timah sebagai perusahaan BUMN yang khusus mengelola dunia pertimahan," ujar Wirtsa.
Ia menjelaskan, pasir timah tersebut harus melalui proses pengujian agar memiliki kualitas ekspor atau sesuai kadar SN-nya.
"Namun yang pasti pasir timah yang diterima pihak PT Timah adalah legal karena sudah melalui proses di Pengadilan Negeri Pontianak," ujarnya.
Sementara itu, Siregar pegawai Adpel Pangkalbalam membenarkan bahwa 16 ton pasir timah tersebut adalah hasil tangkapan di Pontianak untuk diserahkan kepada PT Timah.
"Jumlah pasir timah itu sebanyak 338 karung atau sebanyak 16 ton diangkut oleh kapal Cahaya Indah dan merapat di Pelabuhan Pangkalbalam pada Kamis sekitar pukul 3.00 dini hari, untuk kemudian diserahkan kepada PT Timah," ujarnya.(*/tdy)
Indonesia's tin smelters boost output as rains ease
PANGKAL PINANG, Indonesia, April 15 (Reuters) - Tin miners on Indonesia's main tin-producing islands of Bangka-Belitung have resumed work at offshore mines after heavy rains ended, which may lift tin exports for April, industry officials said on Thursday.
Indonesia's refined tin exports in March fell nearly 41 percent to 6,576.01 tonnes from a year ago because of slow demand and as heavy rains hampered mining. [ID:nJAK412516]
Individual miners have operated their makeshift dredges along the coastline of Bangka-Belitung island with the easing of the monsoon rains, which had lasted from December to March.
"Weather has been favourable, improving tin ore supply from traditional miners," said Johan Murod, director for PT Bangka-Belitung Timah Sejahtera, a consortium of seven smelters.
The seven members of the consortium, which have a combined capacity of around 2,800 tonnes a month, was now operating at 40 percent capacity as the tin ore supplies increased, compared with 20 percent in February-March when rains were heavier.
All small smelters on the islands off Sumatra depend on small-scale traditional miners for about 80 percent of their ore supply.
With the easing in the monsoon rains, tin exports in April may recover to about 7,000 tonnes or more, said Peter Kettle, manager of statistics and market studies at ITRI, an international tin industry group based in Britain, on Tuesday.
State miner PT Timah Tbk (TINS.JK), the world's largest integrated tin miner, also has more dredges operating at offshore mines thanks to the better weather, said Wirtsa Firdaus, Timah's spokesman in Bangka-Belitung.
The firm operates seven dredges in Riau waters off Sumatra island and four dredges in Bangka water, Firdaus said. In the monsoon season, it had four dredges in Riau and two in Bangka.
"We still have three more dredges that are not in operation due to regular maintenance work," Firdaus said.
Timah planned to boost offshore mining by increasing the number of dredges this year, in order to increase tin output.
Over the past four years, the tin industry in Indonesia's main tin-producing islands of Bangka-Belitung, off Sumatra, has been hit by weaker tin prices, a police crackdown on illegal mining, and the depletion of easily mined onshore reserves.
Tin for three-month delivery MSN3 on the London Metal Exchange stood at $18,975 a tonne on Thursday, up nearly 12 percent so far this year.
But it was trading about 26 percent below the all-time high of $25,500 a tonne which was hit in May 2008. (Additional reporting by Fitri Wulandari; Editing by Sara Webb)
Indonesia's refined tin exports in March fell nearly 41 percent to 6,576.01 tonnes from a year ago because of slow demand and as heavy rains hampered mining. [ID:nJAK412516]
Individual miners have operated their makeshift dredges along the coastline of Bangka-Belitung island with the easing of the monsoon rains, which had lasted from December to March.
"Weather has been favourable, improving tin ore supply from traditional miners," said Johan Murod, director for PT Bangka-Belitung Timah Sejahtera, a consortium of seven smelters.
The seven members of the consortium, which have a combined capacity of around 2,800 tonnes a month, was now operating at 40 percent capacity as the tin ore supplies increased, compared with 20 percent in February-March when rains were heavier.
All small smelters on the islands off Sumatra depend on small-scale traditional miners for about 80 percent of their ore supply.
With the easing in the monsoon rains, tin exports in April may recover to about 7,000 tonnes or more, said Peter Kettle, manager of statistics and market studies at ITRI, an international tin industry group based in Britain, on Tuesday.
State miner PT Timah Tbk (TINS.JK), the world's largest integrated tin miner, also has more dredges operating at offshore mines thanks to the better weather, said Wirtsa Firdaus, Timah's spokesman in Bangka-Belitung.
The firm operates seven dredges in Riau waters off Sumatra island and four dredges in Bangka water, Firdaus said. In the monsoon season, it had four dredges in Riau and two in Bangka.
"We still have three more dredges that are not in operation due to regular maintenance work," Firdaus said.
Timah planned to boost offshore mining by increasing the number of dredges this year, in order to increase tin output.
Over the past four years, the tin industry in Indonesia's main tin-producing islands of Bangka-Belitung, off Sumatra, has been hit by weaker tin prices, a police crackdown on illegal mining, and the depletion of easily mined onshore reserves.
Tin for three-month delivery MSN3 on the London Metal Exchange stood at $18,975 a tonne on Thursday, up nearly 12 percent so far this year.
But it was trading about 26 percent below the all-time high of $25,500 a tonne which was hit in May 2008. (Additional reporting by Fitri Wulandari; Editing by Sara Webb)
Langganan:
Postingan (Atom)