Rabu, 03 Maret 2010

BABEL NEGERI 1001 BAGAN

I. Gambaran Industri Bangka Belitung

Perkembangan ekonomi di wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak akan pernah terl
epas dari peranan biji Timah, sejak zaman kolonial sampai dengan saat ini telah lebih dari 300 tahun bahan galian timah ini di eksploitasi. Pada kurun waktu tersebut bahkan sampai dengan saat ini Biji Timah masih menjadi primadona dalam mendulang dollar baik bagi pemerintah, pengusaha maupun masyarkat. Lada yang harganya selalu mengalami kenaikan dan penurunan tajam sesuai dengan trend 10 tahunannya merupakan primadona lain bagi masyarakat, hanya saja sejak tahun 1998 saat reformasi melanda negeri ini tatanan perkebunan lada yang ada menjadi kacau balau. Para Petani beralih profesi menjadi penggali penggali bijih timah, lahan perkebunan berubah menjadi danau danau kecil(kolong) peninggalan para penambang. Akhirnya lada tidak lagi menjadi primadona karena para petani tidak lagi berkebun dan petani yang ingin berkebun kesulitan mencari lahan. Bangka Belitung Pasca Timah Sejak era reformasi tersebut terjadi percepatan penggalian bijih timah dengan kata lain cadangan bijih timah semakin cepat habis. Hampir bisa di pastikan sepuluh tahun kedepan bijih timah merupakan barang langka di propinsi ini. Habisnya cadangan dengan sendirinya akan mematikan industri pertimahan (sang primadona). Hilangnya industri timah merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan jika tidak di antisipasi dengan baik oleh seluruh lapisan pelaku ekonomi. Contoh yang nyata adalah Dabo singkep Propinsi, daerah ini pada masa kejayaan industri timah cukup dikenal namun setelah era timah usai, Dabo Singkep bagaikan ditelan bumi. Sektor Kelautan Pemanfaatan potensi perikanan laut walaupun telah mengalami berbagai peningkatan pada beberapa aspek, namun secara signifikan belum dapat memberi kekuatan dan peran yang lebih kuat terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan pendapatan masyarakat nelayan.

Mengingat hal tersebut di atas, negeri ini dapat menjadikan sektor kelautan sebagai industri pengganti yang harus disiapkan sejak jauh jauh hari, potensi laut yang kaya merupakan salah satu alternatif pengganti industri pertimahan. Bangka Belitung merupakan bagian dari Potensi perikanan laut Indonesia yang terdiri atas potensi perikanan pelagis dan perikanan demersal tersebar pada hampir semua bagian perairan laut yang ada seperti pada perairan laut teritorial, perairan laut nusantara dan perairan laut Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Selain eksploitasi perikanan, Kekayaan wisata pantai dan alam laut di Pulau Bangka pun patut dikembangkan. Biasanya dari bibir pantai di pulua Bangka para wisatawan bisa melihat pulau-pulau kecil di tengah laut yang di sekitarnya banyak nelayan mencari ikan dengan sampannya. Selain itu, ada pula rumah-rumah bagan tempat menangkap ikan teri di tengah laut. Rumah-rumah bagan itu terbuat dari kayu pantai dengan atap rumbia.
Wisatawan yang ingin melihat dari dekat rumah-rumah bagan itu dapat menyewa perahu milik nelayan.

Masyarakat Pesisir

Tidak dapat disangkal lagi bahwa masyarakat pesisir merupakan segmen anak bangsa yang paling tertinggal tingkat kesejahteraannya dibandingkan dengan anak bangsa lainnya yang bergelut di sektor non perikanan. Memang sungguh ironis, padahal wilayah pesisir sangat kaya sumberdaya kelautan dan perikanan serta jasa kelautan lainnya.

Masyarakat pesisir di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan bagian dari masyarakat pesisir Indonesia. Komunitas ini relatif masih tertinggal, yang ditandai dengan poverty headcount index masih 0,28. Dengan kata lain, masih terdapat kira-kira 28% dari populasi tergolong miskin. Fenomena kemiskinan masyarakat pesisir ini sungguh sangat ironis, karena negeri ini memiliki potensi sumberdaya kelautan yang kaya.

Keironisan ini telah menjadi perhatian serius pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir, keseriusan tersebut dapat dilihat dari program Bappenas dengan Marginal Fishing Community Development Pilot (MFCDP), Departemen Kelautan dan Perikanan dengan Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP). Tentu saja perogram program tersebut akan di koordinasikan dengan pemerintah daerah setempat.

Aplikasi Sederhana dari Blue Ocean Strategy

"Untuk mencapai sukses, tak usah meniru sukses masa lalu. Sebagian pebisnis menerapkan jurus-jurus bisnis yang tak lazim dan bertentangan dengan teori. Mereka sukses karena menerapkan jurus-jurus bisnis yang menentang arus"

Menurut associate consultant MarkPlus&Co, Yuswohady, jurus-jurus bisnis menentang arus kerap disebut sebagai blue ocean strategy. " Blue ocean strategy adalah strategi yang biasanya diterapkan dalam sebuah arena bisnis, di mana kondisi pasar atau lautnya masih berwarna biru, terbuka, karena belum banyak pemain yang menggarap, Konsep ini secara sederhana dapat di aplikasikan pada Integrasi Pengelolaan Industri Kelautan dan Pariwisata Laut di Pulau Bangka

Jika rumah-rumah bagan diperairan Pantai dibentuk secara permanen dan tradisional, bukan tidak mungkin dapat dijadikan sebagai obyek wisata tambahan karena dengan bangunan permanen faktor keamanan akan lebih baik. Tidak tertutup kemungkinan akan banyak wisatawan yang berminat mengetahui bagaimana caranya nelayan menangkap ikan ikan bilis yang merupakan bahan baku ikan teri yang menjadi komoditi utama karena bernilai cukup tinggi.

II. PULAU BANGKA

Industri Kelautan dan Industri Pariwisata Kelautan tidak terlepas dari faktor faktor Geografis, iklim/cuaca, curah hujan, angin, suhu. Jelas saja karena hal hal tersebut sangat mempengaruhi musim panen jenis jenis ikan tertentu. Bagi Pariwisata faktor cuaca yang tidak menentu menjadi kendala tersendiri yang harus di fikirkan dan disikapi dengan benar.

Letak Geografis

Pulau Bangka terletak disebelah pesisir Timur Sumatera Bagian Selatan yaitu 1°20’-3°7 Lintang Selatan dan 105° - 107° Bujur Timur memanjang dari Barat Laut ke Tenggara sepanjang ± 180 km. Propinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai batas wilayah :

a. sebelah utara dengan Laut Natuna;

b. sebelah timur dengan Selat Karimata;

c. sebelah selatan dengan Laut Jawa; dan

d. sebelah barat dengan Selat Bangka.

Secara geografis Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung, dan Kota Pangkal Pinang dengan luas wilayah 16.334 km2 sangat strategis baik dari aspek politik, ekonomi, sosial-budaya, keamanan, maupun pertahanan karena berada pada posisi poros tengah jalur lalu lintas Pulau Sumatera dan Selat Karimata yang merupakan jalur pelayaran internasional.

Pulau ini terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah, bukit-bukit dan puncak bukit terdapat hutan lebat, sedangkan pada daerah rawa terdapat hutan bakau. Rawa daratan pulau Bangka tidak begitu berbeda dengan rawa di pulau Sumatera, sedangkan keistimewaan pantainya dibandingkan dengan daerah lain adalah pantainya yang landai berpasir putih dengan dihiasi hamparan batu granit.

Iklim

Iklim Pulau Bangka adalah tropis Type A dan musin hujan terjadi pada bulan Juni – Desember. Rata-rata curah hujan dalam satu tahun = 220 hari atau 343,7 mm perbulan. Suhu udara rata-rata 26°C – 28,1°C dengan kelembaban udara sekitar 76-88.

Curah Hujan

Menurut data Meteorologi Pangkalpinang pada tahun 1998, iklim di Kabupaten Bangka adalah iklim tropis tipe A dengan curah hujan 107,6 hingga 343,7 mm per bulan. Kemudian menurut Schmidt-Ferguson, pada tahun 1999 variasi curah hujan menjadi antara 70,10 hingga 384,50 mm per bulan. Dengan musim hujan rata-rata terjadi pada bulan Oktober sampai April. Musim penghujan dan kemarau di Kabupaten Bangka juga dipengaruhi oleh dua musim angin, yaitu muson barat dan muson tenggara. Angin Muson barat yang basah pada bulan Nopember, Desember dan Januari banyak mempengaruhi bagian utara Pulau Bangka. Sedangkan, angin muson tenggara yang datang dari laut jawa mempengaruhi cuaca di bagian selatan Pulau Bangka

Suhu, Kelembaban dan Tekanan Udara

Suhu rata-rata di Kabupaten Bangka menunjukkan variasi antara 25,9 hingga 27,3° Celcius. Menurut stasiun Meteorologi Pangkalpinang tahun 1999, suhu udara tertinggi terjadi pada bulan Agustus, dan suhu terendah terjadi pada bulan Desember dan januari. Sementara, besarnya intensitas penyinaran rat-rata bervariasi antara 18,5 % hingga 70 %, dengan kelembaban udara yang cukup tinggi, yaitu antara 77 % pada bulan Agustus hingga 89 % pada bulan Januari. Sedangkan tekana udara memiliki pola yang cukup stabil dengan kisaran variasi yang sempit antara 1006,3 MBS hingga 10111,1 MBS. Tekanan udara tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan terendah terjadi pada bulan Desember.

Angin

Prakiraan arah dan kecepatan angin setiap bulannya dapt diketahui dari hasil pengamatan cuaca di Bandara Depati Amir, Pangkalan Baru. Dari hasil pengamatan tersebut diperoleh kecepatan angin berkisar rata-rata antara 1 hingga 16 knot, dengan asal arah angin dominan setiap bulannya sebagai berikut :

-

Januari

:

Barat Laut (29%), Utara (25,4%) dan Barat (11,2%)

-

Februari

:

Utara (47,8%), Timur Laut (15,1%) dan Barat Laut (10,2%)

-

Maret

:

: Utara (20,4%) dan Barat (14,1%)

-

April

:

Tenggara (16,6%), Selatan (13,8%), Timur (12,4%), Utara (10,9%) dan Timur Laut (10%)

-

Mei

:

Selatan (18,5%) dan Tenggara (16,8%)

-

Juni

:

Tenggara (19,2%), Selatan (16,6%) dan Timur (13,8%)

-

Juli

:

Tenggara (32%), Selatan (21,1%) dan TImur (13,9%)

-

Agustus

:

Tenggara (28,5%), Selatan (23,4%) dan Timur (14,7%)

-

September

:

Tenggara (20,8%), Selatan (17%) dan Barat Laut (14,6%)

-

Oktober

:

Tenggara (27,7%), Selatan (19,4%) dan Timur (14,7 %)

-

Nopember

:

Utara (14,5%), Barat (12,8%) dan Selatan (10,4%)

-

Desember

:

Barat (20,7%), Barat Laut (20,2%) dan Utara (18,1%).

III. PROSPEK INDUSTRI KELAUTAN DAN PARIWISATA KELAUTAN

Dalam dunia dengan persaingan yang makin keras peningkatan hasil perikanan di Bangka Belitung dapat dikembangkan dengan menciptakan Iklim usaha yang kondusif. Hal ini harus mendapat dukungan dari segenap pelaku ekonomi termasuk pemerintah dan legislatif melalui deregulasi dan regulasi yang terkait dengan pengembangan agribisnis perikanan.

Industri Kelautan

Potensi laut yang sungguh luar biasa dapat di jadikan kemungkinan peluang, dan tantangan dalam upaya mereposisikan potensi kelautan dan perikanan sebagai salah satu fundamen sekaligus pilar ekonomi Bangka di masa kini dan mendatang.

Potensi kelautan yang besar ini menjadi amanat dari pemerintah pusat saat pembentukan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, dalam pertimbangannya disebutkan bahwa Dari aspek potensi daerah, wilayah Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi di bidang perkebunan, perikanan, pertambangan, dan pariwisata yang potensial serta mempunyai prospek yang baik bagi pemenuhan kebutuhan pasar dalam negeri dan luar negeri.

Dengan promosi selektif, bukan tidak mungkin ikan teri akan menjadi makanan kesehatan di AS (bukan sebagai lauk pauk). Harganya pun bisa puluhan kali lipat bila dibuktikan ikan teri adalah sumber kalsium organik berkualitas baik diantara seluruh jenis makanan, dan enak berdasarkan jenis asam aminonya, di Cina dan Jepang teri dapat dianggap sebagai obat kuat, sebagai catatan teri indonesia dibeli oleh pengusaha jepang dengan harga US$ 10,- per kilogram.

Sifat produk perikanan yang mudah rusak perlu teknologi yang baik sehingga tetap segar dan relatif tidak berkurang kadar proteinnya untuk digunakan sebagai bahan baku industri Pengolahan maupun langsung dikonsumsi.

Bila Pengolahan dengan kualitas ekspor dalam tingkat rakyat dilakukan, pada gilirannya akan meningkatkan harganya pada tingkat yang tak terbayangkan.

Kajian Feasibility terhadap industri kelautan dilakukan lebih spesifik kepada alat penangkapan ikan berupa bagan dengan hasil olahan berupa Teri dan Cumi sedangkan hasil yang lain akan di golongkan sebagai produk sampingan.

Pariwisata Kelautan

Saat ini telah banyak bermunculan organisasi organisasi olah raga yang berhubungan langsung dengan sektor kelautan seperti Pancing, Snorkling dan Diving. Penggemar olah raga ini merupakan pasar yang baik bagi kegiatan pariwisata di daerah.

Para pemancing akan sangat merasa nyaman melakukan kegiatannya dari atas bagan permanen tidak seperti halnya bagan yang terbuat dari bambu atau kayu, kenyamanan akan berkurang karena faktor keamanan yang tidak begitu baik.

Disela sela kegiatan memancing mereka bisa menikmati para operator bagan melakukan kegiatan penangkapan ikan menggunakan jaring di bagan. Bagi wisatawan hal ini tentu menarik karena mereka tidak akan pernah melihat kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari harinya.

Biasanya Bagan dibangun pada laut yang tidak terlalu dalam dan dekat dengan terumbu karang, tentu saja hal ini menjadi Hot Spot nya para pecinta diving dan snorkling. Bagan bisa di jadikan tempat persinggahan dan peristirahatan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Bagan Permanen Sebagai Asset Penunjang Pariwisata

Penggabungan antara kegiatan industri kelautan dan kegiatan pariwisata dapat segera di aplikasikan. Artinya mereka akan bersinergi sehingga akan menghasilkan sebuah nilai lebih bagi para konsumen. Sementara bagi pengelola bisnis, hal ini dapat mengefisiensikan biaya dengan mengoptimalkan penggunaan asset yang di miliki.

Nilai lebih bagi konsumen (tourist) dapat di pisahkan menjadi dua bagian pertama, para calon customer bisa melihat langsung proses industri perikanan dengan terlibat langsung dari proses awal hingga akhir sehingga mereka yakin dengan produk akhirnya, proses ini sebetulnya merupakan nilai jual bagi pariwisata, dengan demikian para calon customer memperoleh nilai lebih berupa kunjungan kerja sambil berwisata.

Kedua, para wisatawan disamping bisa menikmati keindahan tinggal di atas bagan pada malam hari, melihat proses penangkapan ikan, melakukan aktivitas memancing, mereka juga bisa menikmati/membawa pulang hasil tangkapan dari bagan.

Pengelola bisnis dapat melakukan efisiensi biaya, Sinergi dua buah aktivitas tersebut hanya memerlukan satu kali pengeluaran biaya, hal inilah yang di maskud dengan efisiensi biaya. Bila dua bisnis tersebut berjalan masing masing maka akan terdapat dua buah pengeluaran, yang pertama untuk berwisata dan yang kedua untuk operasional bagan.

IV. EKONOMI KERAKYATAN

Pidato Bung Hatta, Tanggal 12 Juli 1951 (Ringkasan dari berbagai sumber)

"Apabila kita membuka UUD 45 dan membaca serta menghayati isi pasal 38, maka nampaklah di sana akan tercantum dua macam kewajiban atas tujuan yang satu. Tujuan ialah menyelenggarakan kemakmuran rakyat dengan jalan menyusun perekonomian sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan.

Perekonomian sebagai usaha bersama dengan berdasarkan kekeluargaan adalah koperasi, karena koperasilah yang menyatakan kerja sama antara mereka yang berusaha sebagai suatu keluarga. Di sini tak ada pertentangan antara majikan dan buruh, antara pemimpin dan pekerja. Segala yang bekerja adalah anggota dari koperasinya, sama-sama bertanggung jawab atas keselamatan koperasinya itu. Sebagaimana orang sekeluarga bertanggung jawab atas keselamatan rumah tangganya, demikian pula para anggota koperasi sama-sama bertanggung jawab atas koperasi mereka.


Makmur koperasinya, makmurlah hidup mereka bersama,

rusak koperasinya, rusaklah hidup mereka bersama."

Dari pidato bung hatta diatas dapat kita tarik beberapa prinsip dalam pengelolaan koperasi, prinsip prinsip tersebut adalah :

Prinsip ke-1 : Voluntary and Open Membership - Sukarela dan terbuka
Co-operatives are voluntary organisations, open to all persons able to use their services and willing to accept the responsibilities of membership, without gender, social, racial, political or religious discrimination.

Koperasi adalah organisasi sukarela, terbuka kepada semua orang yang dapat melayani dan mau menerima tanggung jawab keanggotaan, tanpa membedakan jenis kelamin, sosial, suku, politik, atau agama.



Prinsip ke-2 : Democratic Member Control - Kontrol oleh anggota secara demokratis
Co-operatives are democratic organisations controlled by their members, who actively participate in setting their policies and making decisions.

Koperasi adalah organisasi demokratis yang dikontrol oleh anggota, yang aktif berpartisipasi dalam merumuskan kebijakan dan membuat keputusan. Satu orang - satu suara.


Prinsip ke-3 : Member Economic Participation - Partisipasi ekomoni anggota
Members contribute equitably to, and democratically control, the capital of their co-operative.

Anggota berkontribusi secara adil dan pengawasan secara demokrasi atas modal koperasi.


Prinsip ke-4 : Autonomy and Independence - Otonomi dan independen
Co-operatives are autonomous, self-help organisations controlled by their members. If they enter into agreements with other organisations, including governments, or raise capital from external sources, they do so on terms that ensure democratic control by their members and maintain their co-operative autonomy.

Koperasi adalah organisasi mandiri yang dikendalikan oleh anggota-anggotanya. Walaupun koperasi membuat perjanjian dengan organisasi lainnya termasuk pemerintah atau menambah modal dari sumber luar, koperasi harus tetap dikendalikan secara demokrasi oleh anggota dan mempertahankan otonomi koperasi.

Prinsip ke-5 : Education, Training and Information - Pendidikan, pelatihan, dan informasi

Co-operatives provide education and training for their members, elected representatives, managers, and employees so they can contribute effectively to the development of their co-operatives.


Koperasi menyediakan pendidikan dan pelatihan untuk anggota, wakil-wakil yang dipilih, manager, dan karyawan sehingga mereka dapat berkontribusi secara efektif untuk perkembangan koperasi.


Prinsip ke-6 : Co-operation among Co-operatives - Kerja sama antar koperasi
Co-operatives serve their members most effectively and strengthen the co-operative movement by working together through local, national, regional and international structures.


Koperasi melayani anggota-anggotanya dan memperkuat gerakan koperasi melalui kerja sama dengan struktur koperasi lokal, nasional, dan internasional.

Prinsip ke-7 : Concern for Community - Perhatian terhadap komunitas
Co-operatives work for the sustainable development of their communities through policies approved by their members.


Koperasi bekerja untuk pengembangan komunitasnya secara berkesinambungan melalui kebijakan yang dibuat oleh anggota

Ketujuh prinsip pengelolaan koperasi tersebut sangat cocok apa bila di aplikasikan dalam pembangunan dan penguatan ekonomi kerakyatan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung

V. KAJIAN TEKNIS

Bagan permanen secara umum bentuknya sama dengan bagan konvensional yang terdapat di perairan Bangka Belitung yang membedakan keduanya adalah dari sisi kekuatan, ketahanan dan kelayakan. Bagan konvensional yang ada saat ini dibangun pada kedalaman air 20 meter dengan bahan bangunan terbuat dari kayu atau bambu, alhasil dengan konstruksi seperti ini bagan rata rata berumur tidak cukup satu tahun.

Tidak ada komentar: