Kamis, 04 Oktober 2012

IKT GUGAT MALAYSIA “Penjarahan 21 Trilyun Rupiah oleh Asing dan Antek-anteknya”

Karyawan PT Timah (Persero) Tbk di seluruh wilayah operasi menggelar apel akbar sebagai bentuk unjuk keprihatinan atas berbagai bentuk aksi penjarahan di sejumlah IUP milik Perusahaan dan kekhawatiran akan masa depan pulau pulau penghasil timah. Aksi yang digelar bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila itu sekaligus bertujuan untuk menyatakan bahwa PT Timah berdaulat penuh atas IUP-IUP nya dan bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya di dalamnya. Apel serentak dilaksanakan tepat pukul 09.00 WIB. Wilayah-wilayah operasi yang menggelar apel akbar tersebut yakni kantor pusat Pangkalpinang, Sungailiat, Belinyu, Jebus, Muntok, Toboali, Jakarta, Cilegon, Belitung, dan Kundur. Apel akbar ini diinisiasi oleh Ikatan Karyawan Timah (IKT) dan pengurus wilayah masing-masing. Inspektur upacara yang juga Ketua Umum Ikatan Karyawan Timah, Muhammad Wirtsa Firdaus dalam sambutannya menyatakan bahwa sebagai institusi penghasil devisa bagi negara, perjuangan karyawan dan perusahaan untuk berbakti bagi bangsa dan negara telah tersandera perijinan, sementara aktivitas penambangan liar berjalan marak untuk memperkaya segelintir orang. Wirtsa mengatakan, ”IKT mengajak seluruh karyawan PT Timah untuk bangkit berjuang bersama menghadapi hambatan, tantangan, ancaman dan gangguan dari segala penjuru serta menegaskan kita harus menghentikan dan melawan upaya sistematis yang dijalankan untuk ‘mengkerdilkan’ eksistensi perusahan baik yang datang dari luar maupun dari dalam.” Salah satu upaya sistematis tersebut adalah melakukan propaganda-propaganda yang menyudutkan perusahaan untuk mengalihkan perhatian pemangku kepentingan sehingga para penjarah leluasa menguras bijih timah didalam IUP Perusahaan dan meninggalkannya dalam keadaan mengenaskan.
Curigai Antek Asing IKT mengklaim malaysia telah menjarah 21 Trilyun Rupiah dari NKRI melalui aktifitas penambangan Ilegal bijih timah Menurut Wirtsa, “Berdasarkan data dari ITRI dari tahun 2008 sampai dengan Tahun 2010 Negara Malaysia menghasilkan logam timah sebesar 128.000 Ton sementara produksi bijih malaysia dalam kurun waktu tersebut hanya sebesar 7.490 Ton. Dari data ini kami menyimpulkan bahwa terdapat logan sejumlah 120.532 ton yang bahan bakunya (bijih timah/tin ore) berasal dari Indonesia. Dengan asumsi harga rata rata USD 20.000 permetricton dan kurs Rp. 9.000,-/USD makan nilai tersebut setara dengan Rp. 21,696 T (dua puluh satu trilyun enam ratus enam puluh enam milyar rupiah). Inilah nilai aset NKRI yang dirampas malaysia dan antek anteknya.” Bela NKRI Terkait Apel Akbar yang digelar karyawan PT Timah di seluruh wilayah operasi, Ketua Steering Comitte Gerakan Perjuangan Karyawan Timah, Arius Dimara mengatakan, “Aksi ini sengaja digelar bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila, untuk menggugah semangat nasionalisme karyawan” Apel Akbar menegaskan posisi seluruh karyawan untuk mensukseskan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan kepedulian pada kelestarian lingkungan. Gerakan ini menjadi lokomotif untuk mengembalikan usaha usaha penambangan agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, berpihak kepada masyarakat, pembukaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan kesadaran lingkungan serta menginspirasi semua pihak pemangku kepentingan untuk memanfaatkan potensi sumber daya mineral menjadi kekuatan financial pembangunan yang berpihak pada kepentingan NKRI, ujarnya

Tidak ada komentar: